Waktu bukan milik anda lagi
Pernahkah anda menghitung berapa jam kerja anda?
Jika jam kerja anda adalah 9 jam sehari, maka pada jam kerja tersebut anda tidak punya hak atas waktu anda. Perusahaan telah membeli waktu anda sejak jam kerja dimulai sampai jam kerja selesai.
Sebenarnya tidak hanya itu saja waktu anda yang tersita. Jam kerja sesungguhnya adalah jam kerja ditambah waktu yang ditempuh untuk pulang dan pergi. Jam kerja sesungguhnya adalah detik pertama anda keluar rumah sampai dengan detik anda sampai dirumah ditambah denan waktu yang terpakai untuk menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah, itulah jam kerja sebenarnya.
Business Week mengungkap lebih dari 31% pekerja pria lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat lazim bekerja 50 jam atau lebih dalam sepekan di kantor, naik dari 22% di tahun 1980, ketika teknologi informasi belum canggih seperti dewasa ini, National Sleep Fondation melaporkan bahwa sekitar 40% orang dewasa Amerika tidur kurang dari 7 jam pada hari kerja. Padahal sejak 1926 Henry Ford telah mempelopori lima hari kerja dalam sepekan, dan sejak 1970 di Amerika berlaku waktu kerja 40 jam seminggu. Kini kecenderungan pekerja terpelajar amerika dewasa ini seperti para buruh pabrik di abad ke 19, menghabiskan waktu kerja rata – rata bekerja 60 jam perminggu.
Di Cina, para manajer senior umumnya bekerja 60 jam, enam hari seminggu. Meski sekitar 20 jam diantaranya terhitung lembur, tapi meraka tidak mendapatkan upah tambahan dari kerja ekstra itu. Umumnya, kaum pekerja keras itu mengaku tidak punya pilihan kecuali kerja lembur dan menganggap hal itu memang sudah menjadi tugas mereka, sehingga memang tidak perlu upah tambahan. Disebutkan bahwa sedikitnya di tiga kota Cina, 51% orang yang lembur selama hari kerja tidak mendapat upah tambahan. Padahal UU ketenagakerjaan di Cina telah menetapkan jam kerja 44 jam seminggu, dalam lima hari kerja, dengan cuti tahunan dua minggu, hari libur rutin, dan upah lembur minimal satu setengah kali upah normal. Kenyataannya peraturan semacam itu tak mampy membendung tumbuhnya kelompok “budak kerja” di negeri tirai bambu tersebut.
Di Jakarta, rata – rata pekerja adalah nine to five (berarti 9 jam sehari dikantor) dan umumnya pekerja tinggal di pinggir kota yang karena macet umumnya menempuh 2 jam perjalanan pergi dan 2 jam perjalanan pulang. Artinya sehari mereka menghabiskan 12 jam perhari untuk perkerjaan, atau 72 jam perminggu. Di Depok jam 5 subuh biasanya bus umum sudah penuh oleh pegawai yang mengejar datang pagi ke kantor.
bersambung klik disini
Pernahkah anda menghitung berapa jam kerja anda?
Jika jam kerja anda adalah 9 jam sehari, maka pada jam kerja tersebut anda tidak punya hak atas waktu anda. Perusahaan telah membeli waktu anda sejak jam kerja dimulai sampai jam kerja selesai.
Sebenarnya tidak hanya itu saja waktu anda yang tersita. Jam kerja sesungguhnya adalah jam kerja ditambah waktu yang ditempuh untuk pulang dan pergi. Jam kerja sesungguhnya adalah detik pertama anda keluar rumah sampai dengan detik anda sampai dirumah ditambah denan waktu yang terpakai untuk menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah, itulah jam kerja sebenarnya.
Business Week mengungkap lebih dari 31% pekerja pria lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat lazim bekerja 50 jam atau lebih dalam sepekan di kantor, naik dari 22% di tahun 1980, ketika teknologi informasi belum canggih seperti dewasa ini, National Sleep Fondation melaporkan bahwa sekitar 40% orang dewasa Amerika tidur kurang dari 7 jam pada hari kerja. Padahal sejak 1926 Henry Ford telah mempelopori lima hari kerja dalam sepekan, dan sejak 1970 di Amerika berlaku waktu kerja 40 jam seminggu. Kini kecenderungan pekerja terpelajar amerika dewasa ini seperti para buruh pabrik di abad ke 19, menghabiskan waktu kerja rata – rata bekerja 60 jam perminggu.
Di Cina, para manajer senior umumnya bekerja 60 jam, enam hari seminggu. Meski sekitar 20 jam diantaranya terhitung lembur, tapi meraka tidak mendapatkan upah tambahan dari kerja ekstra itu. Umumnya, kaum pekerja keras itu mengaku tidak punya pilihan kecuali kerja lembur dan menganggap hal itu memang sudah menjadi tugas mereka, sehingga memang tidak perlu upah tambahan. Disebutkan bahwa sedikitnya di tiga kota Cina, 51% orang yang lembur selama hari kerja tidak mendapat upah tambahan. Padahal UU ketenagakerjaan di Cina telah menetapkan jam kerja 44 jam seminggu, dalam lima hari kerja, dengan cuti tahunan dua minggu, hari libur rutin, dan upah lembur minimal satu setengah kali upah normal. Kenyataannya peraturan semacam itu tak mampy membendung tumbuhnya kelompok “budak kerja” di negeri tirai bambu tersebut.
Di Jakarta, rata – rata pekerja adalah nine to five (berarti 9 jam sehari dikantor) dan umumnya pekerja tinggal di pinggir kota yang karena macet umumnya menempuh 2 jam perjalanan pergi dan 2 jam perjalanan pulang. Artinya sehari mereka menghabiskan 12 jam perhari untuk perkerjaan, atau 72 jam perminggu. Di Depok jam 5 subuh biasanya bus umum sudah penuh oleh pegawai yang mengejar datang pagi ke kantor.
bersambung klik disini
0 komentar:
Posting Komentar